Tanggal rilis : 2
Juni 2022 (Indonesia)
Sinematografi
: Padri Nadea
Sekumpulan bapak - bapak sedang berkumpul di lapo
(warung) seperti sudah menjadi budaya disana, namun berkumpul hampir setiap
malam yang dapat membuat Mak Domu (Tika Panggabean) juga resah.
Satu persatu bapak - bapak disana pulang dari lapo,
takut jika istrinya langsung bertindak memanggil ke lapo. Rasanya itu 'malu'
kata pak Domu (Arswendy Beniswara).
Tidak lama kemudian, Mak Domu datang ke lapo untuk
menjemput Pak Domu. Akhirnya Pak Domu dan Mak Domu pulang sambil berjalan kaki.
Pak Domu sempat berbisik kepada Mak Domu sambil
berkata 'Ngapain lah kau jemput aku, malu aku sama yang lain' kurang
lebih seperti itu.
Di perjalanan itu pula mereka berdiskusi bahwa
bagaimana caranya agar anak - anak mereka pulang. Disatu sisi, Mak Domu rindu
sekali dengan ketiga anaknya di perantauan, karena sudah lama tidak pulang.
Sedang si Bapak, berharap mereka pulang saat acara Sulang - sulang pahoppu.
Pak Domu dan Mak Domu mulai mencari cara dari satu
alasan ke alasan lain. Di mulai dari Pak Domu yang menyuruh Mak Domu untuk
menelpon ketiga - anak - anaknya untuk menyuruh mereka pulang. Namun, ketiga
anak tersebut memberikan alasan - alasannya tersendiri.
Domu (Boris Bokir) sebagai anak pertama bekerja
sebagai pegawai di salah satu anak perusahaan ternama. Tidak bisa pulang dengan
alasannya.
Gabe (Silolox) sebagai anak ke-tiga juga tidak bisa
pulang karena jadwal syuting begitu padat. Dan jika pun bisa tentu tidak akan
lama, hanya di beri waktu beberapa hari saja.
Sahat (Indra Jegel) sebagai anak bungsu juga tidak
dapat pulang. karena di perantauan Sahat tinggal dengan Pak Pomo (Pritt Timothy
Prodjosoemantri) Sahat tidak mungkin pulang karena tidak tega meninggalkan Pak
Pomo sendirian.
Lagi dan lagi, meskipun cara Mak Domu menelpon akan
mengira dapat meluluhkan hati sang anak - anak dapat pulang, ternyata rencana
tersebut gagal kembali.
Malamnya, Pak Domu kembali lagi ke Lapo, seperti biasa
nongkrong bersama bapak - bapak lainnya.
Seorang bapak bangga dan tertawa melihat sebuah aksi
Gabe pada siaran televisi. Mereka mengakui bahwa Gabe hebat dan sudah sukses.
Lawakan - lawakan yang di lontarkan oleh Gabe, tidak
jauh turun dari Pak Domu. Tetapi, Pak Domu tetap saja tidak terima, masih juga
merasa gengsi dan mengatakan bahwa Gabe akan sukses jika menjadi seorang hakim
atau pengacara karena ia sukses berkuliah di jurusan hukum pada universitas
ternama.
Pada awal - awal film, penonton akan merasakan gelakan
tawa yang terus menerus di berikan oleh para pemain.
Lagi dan Lagi, Mak Domu menjemput Pak Domu ke lapo.
Mak Domu selalu kesal jika Pak Domu terus - terusan pergi ke Lapo, seperti
tidak ada kerjaan. Padahal hanya duduk - duduk saja, berminum atau bahkan
bergosip.
Pada saat mereka berdua menuju arah jalan pulang, tidak sengaja di jalan
bertemu dengan seorang pendeta, bergegas Pak Domu menyuruh Mak Domu untuk
menggandeng tangan Pak Domu.
Seakan agar terlihat oleh pendeta bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis.
Yaaa, pandangan tetangga dan orang lain terhadap keluarga Pak Domu dan Mak Domu
ini adalah keluarga yang harmonis dan Sukses.
Sukses menyekolahkan anak - anaknya hingga ke perguruan tinggi. Dan mendapatkan
pekerjaan yang layak.
Kembali lagi, Pak Domu memikirkan suatu cara. Mungkin saja ini adalah cara
terakhir dengan harapan besar pasti berhasil.
Salah satu saran yang diberikan Pak Domu kepada Mak Domu adalah memakai
alasan cerai.
Keesokannya Pak Domu dan Mak Domu mulai berakting di depan Sarma (Gita Bhebita)
Seolah - olah mereka serius berantem dan Mak Domu ingin bercerai.
Mak Domu mulai membereskan pakaian ke dalam sebuah tas dan ingin pergi dari
rumah tersebut. Namun Sarma mulai mencegahnya.
Di tambah Bapak Pendeta lewat dan mulai menyapa Mak Domu sehingga Mak Domu
tidak jadi pergi dari rumah dan meninggalkan tas tersebut.
Seolah Sarma lah yang membawa tas itu untuk berangkat kerja.
Sarma mulai menelpon ketiga saudaranya melalui video call dan
mengatakan bahwa situasi dirumah sudah dalam keadaan bahaya, mamak dan bapak
mau cerai, Mak Domu hampir pergi dari rumah. Dan menyuruh mereka semua untuk
secepatnya pulang.
Ternyata, cara terakhir dari Pak Domu berhasil. Mak
Domu yang mendengar kabar bahwa ketiga anaknya akan pulang merasa bahagia.
Karena Mak Domu sudah lama merasakan kerinduan kepada
anak - anaknya yang tinggal di perantauan.
Domu meminta ijin kepada keluarga kekasihnya untuk
pulang ke Sumatera Utara, agar secepatnya membereskan masalah keluarga lalu
akan melanjutkan pernikahan mereka.
Gabe yang paling sulit di beri ijin oleh sang manajer.
Sebab ia bekerja di layar televisi. Terus - terusan memohon ijin kepada manajer
untuk pulang ke kampung halaman karena ada urusan keluarga.
Namun sang manager hanya memberikan waktu beberapa
hari saja dan harus balik lagi untuk bekerja.
Sahat menceritakan semua kejadian kepada Pak Pomo, dan
terus terang Sahat juga tidak ingin meninggalkan Pak Pomo sendirian.
Ingat banget, Pak Pomo mengatakan ini kepada Sahat
"Urip Iki Urup, Urip itu Hidup, Urup Itu Cahaya. Dimana pun berada
tetap memberikan cahaya" atau yang memiliki makna sebagai "Hidup
itu harus bisa memberikan cahaya untuk orang lain".
Akhirnya satu persatu di antara mereka bertiga
akhirnya pulang. Dan keesokan harinya Sarma menjemput ketiga saudaranya di
Bandara Silangit. Bandara terdekat dari rumah mereka.
Mereka pulang bersama - sama. Di perjalanan Sarma
sedikit menceritakan kejadian yang terjadi di rumah. Mereka mengatakan akan
menyelesaikan masalah secepatnya dan segera kembali untuk pulang.
Setibanya sampai di rumah, Domu, Gabe dan Sahat
langsung menyapa Pak Domu dan Mak Domu. Mereka melanjutkan diskusi tentang
permasalahan di dalam keluarga mereka.
Akan tetapi Mak Domu dan Pak Domu masih memainkan
perannya. Agar ketiga anak mereka tetap tinggal di kampung halaman hingga acara
sulang - sulang pahoppu selesai.
Benar saja, keempatnya sudah melakukan berbagai cara,
namun tak kunjung menemukan jalan keluar.
Kini, ke-4 nya telah berkumpul. Domu menitipkan sebuah
pesan kepada Sarma, ia mengatakan "jangan
lupa mikirin diri sendiri ya dek"
Menurut saya, ini paling deep banget
sih. Langsung menggeletar disaat Domu bicara itu ke Sarma.
Selanjutnya, Domu mengatakan "Bapak lebih sering berinteraksi ke kau, jadi kamu tau cara bersikap,
sedangkan kami sesama lelaki gak tau".
Mereka akhirnya tetap memilih tinggal
sementara dan mengikuti acara sulang - sulang pahoppu tersebut.
Intinya, peran Pak Domu disini bersifat keras, semua
keinginannya harus di turuti. Pak Domu merasa bahwa apa yang dilakukan adalah
yang terbaik untuk keluarganya. Ia hanya mencontohkan apa yang bapaknya pak
Domu lakukan, hanya itu saja.
Tak lupa, ompung juga memberikan arahan
bahwa semua tidak sama, berbeda. Berikan contoh terbaik "itulah resiko menyekolahkan anak tinggi - tinggi, maka
semakin tinggi ilmu yang mereka dapatkan, dan jangan disamakan dengan kita,
kitalah yang harus mengerti itu".
Kurang lebih seperti itu pesan yang saya ingat dari
ompung. Beberapa pesan tersampaikan membuat hati terenyuh banget dari film ini.
Puncak tertinggi pada film ini pada saat semuanya
terbongkar bahwa bapak dan ibu ternyata hanya bersandiwara, dan Sarma
mengetahui hal tersebut.
Ketiga anak lainnya bertanya kepada Sarma apakah hal
terbut benar adanya?
Jawaban Sarma adalah YA, dan Sarma mengakui bahwa ia
mengetahui bahwa bapak dan ibu hanya melakukan sandiwara.
Emosi Ibu meluap, bukan lagi melakukan sandiwara.
Semua rasa emosi Ibu, Sarma dan yang lainnya ikut terkuras disini.
Bapak yang harus di turuti kemauannya, Ibu yang harus
menurut, bahkan menjadi asing, dan merasa bahwa bapak tidak adil.
Sarma yang banyak memendam segalanya sendirian, namun
berusaha tetap nurut dan patuh sama bapak dan Ibu.
Kepecahan ini lah yang banyak sekali membuat para
penonton menangis terisak dan tersedu sedu.
Pada film ini mengajarkan, bahwa pentingnya komunikasi
dalam keluarga, pendekatan dan keterbukaan.
Bagaimana seharusnya keluarga menjadi tempat pulang
dan sebagai rumah. Bukan malah menghindar dari sebuah rumah.
Tapi, menurut saya, jika dalam keluarga anda mengalami
hal ini. Mungkin bisa di coba dimulai dari diri sendiri yang memulai untuk
mencari pendekatan dalam keluarga, agar bisa menikmati bagaimana rasanya ada di
dalam keluarga yang utuh.
Sulit memang, sangat sulit sekali bahkan. Tetapi jika
anda berhasil, anda sungguh luar biasa.
Karena Ibu dan Sarma sudah tinggal di rumah orang tua
Ibu. Dan ketiga anaknya kembali ke perantauan. Dan hanya tinggal bapak seorang.
Akhirnya Bapak memutuskan untuk memperbaiki segala
hubungan, bapak menyetujui hubungan Domu dan pasangannya.
Bapak yang tiba - tiba datang di studio Gabe pada
saat live acara tv.
Dan Bapak datang ke tempat dimana Pak Pomo tinggal
bersama Sahat.
Semua Pak domu lakukan untuk menjemput Mak Domu dan
Sarma. Tentunya memperbaiki hubungan keluarga mereka
3. Kelebihan dan Kekurangan
Film Ngeri-Ngeri Sedep