1. Identitas Film
Tanggal rilis : 2 Juni 2022 (Indonesia)
Sutradara : Bene Dion
Sinematografi : Padri Nadea
Distributor : Netflik
2. Sinopsis Film
Sekumpulan bapak - bapak sedang berkumpul di lapo (warung) seperti sudah menjadi budaya disana, namun berkumpul hampir setiap malam yang dapat membuat Mak Domu (Tika Panggabean) juga resah.
Satu persatu bapak - bapak disana pulang dari lapo, takut jika istrinya langsung bertindak memanggil ke lapo. Rasanya itu 'malu' kata pak Domu (Arswendy Beniswara).
Tidak lama kemudian, Mak Domu datang ke lapo untuk menjemput Pak Domu. Akhirnya Pak Domu dan Mak Domu pulang sambil berjalan kaki.
Pak Domu sempat berbisik kepada Mak Domu sambil berkata 'Ngapain lah kau jemput aku, malu aku sama yang lain' kurang lebih seperti itu.
Di perjalanan itu pula mereka berdiskusi bahwa bagaimana caranya agar anak - anak mereka pulang. Disatu sisi, Mak Domu rindu sekali dengan ketiga anaknya di perantauan, karena sudah lama tidak pulang. Sedang si Bapak, berharap mereka pulang saat acara Sulang - sulang pahoppu.
Pak Domu dan Mak Domu mulai mencari cara dari satu alasan ke alasan lain. Di mulai dari Pak Domu yang menyuruh Mak Domu untuk menelpon ketiga - anak - anaknya untuk menyuruh mereka pulang. Namun, ketiga anak tersebut memberikan alasan - alasannya tersendiri.
Domu (Boris Bokir) sebagai anak pertama bekerja sebagai pegawai di salah satu anak perusahaan ternama. Tidak bisa pulang dengan alasannya.
Gabe (Silolox) sebagai anak ke-tiga juga tidak bisa pulang karena jadwal syuting begitu padat. Dan jika pun bisa tentu tidak akan lama, hanya di beri waktu beberapa hari saja.
Sahat (Indra Jegel) sebagai anak bungsu juga tidak dapat pulang. karena di perantauan Sahat tinggal dengan Pak Pomo (Pritt Timothy Prodjosoemantri) Sahat tidak mungkin pulang karena tidak tega meninggalkan Pak Pomo sendirian.
Lagi dan lagi, meskipun cara Mak Domu menelpon akan mengira dapat meluluhkan hati sang anak - anak dapat pulang, ternyata rencana tersebut gagal kembali.
Malamnya, Pak Domu kembali lagi ke Lapo, seperti biasa nongkrong bersama bapak - bapak lainnya.
Seorang bapak bangga dan tertawa melihat sebuah aksi Gabe pada siaran televisi. Mereka mengakui bahwa Gabe hebat dan sudah sukses.
Lawakan - lawakan yang di lontarkan oleh Gabe, tidak jauh turun dari Pak Domu. Tetapi, Pak Domu tetap saja tidak terima, masih juga merasa gengsi dan mengatakan bahwa Gabe akan sukses jika menjadi seorang hakim atau pengacara karena ia sukses berkuliah di jurusan hukum pada universitas ternama.
Pada awal - awal film, penonton akan merasakan gelakan tawa yang terus menerus di berikan oleh para pemain.
Lagi dan Lagi, Mak Domu menjemput Pak Domu ke lapo.
Mak Domu selalu kesal jika Pak Domu terus - terusan pergi ke Lapo, seperti tidak ada kerjaan. Padahal hanya duduk - duduk saja, berminum atau bahkan bergosip.
Pada saat mereka berdua menuju arah jalan pulang, tidak sengaja di jalan bertemu dengan seorang pendeta, bergegas Pak Domu menyuruh Mak Domu untuk menggandeng tangan Pak Domu.
Seakan agar terlihat oleh pendeta bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis.
Yaaa, pandangan tetangga dan orang lain terhadap keluarga Pak Domu dan Mak Domu ini adalah keluarga yang harmonis dan Sukses.
Sukses menyekolahkan anak - anaknya hingga ke perguruan tinggi. Dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Kembali lagi, Pak Domu memikirkan suatu cara. Mungkin saja ini adalah cara terakhir dengan harapan besar pasti berhasil.
Salah satu saran yang diberikan Pak Domu kepada Mak Domu adalah memakai alasan cerai.
Keesokannya Pak Domu dan Mak Domu mulai berakting di depan Sarma (Gita Bhebita) Seolah - olah mereka serius berantem dan Mak Domu ingin bercerai.
Mak Domu mulai membereskan pakaian ke dalam sebuah tas dan ingin pergi dari rumah tersebut. Namun Sarma mulai mencegahnya.
Di tambah Bapak Pendeta lewat dan mulai menyapa Mak Domu sehingga Mak Domu tidak jadi pergi dari rumah dan meninggalkan tas tersebut.
Seolah Sarma lah yang membawa tas itu untuk berangkat kerja.
Sarma mulai menelpon ketiga saudaranya melalui video call dan mengatakan bahwa situasi dirumah sudah dalam keadaan bahaya, mamak dan bapak mau cerai, Mak Domu hampir pergi dari rumah. Dan menyuruh mereka semua untuk secepatnya pulang.
Ternyata, cara terakhir dari Pak Domu berhasil. Mak Domu yang mendengar kabar bahwa ketiga anaknya akan pulang merasa bahagia.
Karena Mak Domu sudah lama merasakan kerinduan kepada anak - anaknya yang tinggal di perantauan.
Domu meminta ijin kepada keluarga kekasihnya untuk pulang ke Sumatera Utara, agar secepatnya membereskan masalah keluarga lalu akan melanjutkan pernikahan mereka.
Gabe yang paling sulit di beri ijin oleh sang manajer. Sebab ia bekerja di layar televisi. Terus - terusan memohon ijin kepada manajer untuk pulang ke kampung halaman karena ada urusan keluarga.
Namun sang manager hanya memberikan waktu beberapa hari saja dan harus balik lagi untuk bekerja.
Sahat menceritakan semua kejadian kepada Pak Pomo, dan terus terang Sahat juga tidak ingin meninggalkan Pak Pomo sendirian.
Ingat banget, Pak Pomo mengatakan ini kepada Sahat "Urip Iki Urup, Urip itu Hidup, Urup Itu Cahaya. Dimana pun berada tetap memberikan cahaya" atau yang memiliki makna sebagai "Hidup itu harus bisa memberikan cahaya untuk orang lain".
Akhirnya satu persatu di antara mereka bertiga akhirnya pulang. Dan keesokan harinya Sarma menjemput ketiga saudaranya di Bandara Silangit. Bandara terdekat dari rumah mereka.
Mereka pulang bersama - sama. Di perjalanan Sarma sedikit menceritakan kejadian yang terjadi di rumah. Mereka mengatakan akan menyelesaikan masalah secepatnya dan segera kembali untuk pulang.
Setibanya sampai di rumah, Domu, Gabe dan Sahat langsung menyapa Pak Domu dan Mak Domu. Mereka melanjutkan diskusi tentang permasalahan di dalam keluarga mereka.
Akan tetapi Mak Domu dan Pak Domu masih memainkan perannya. Agar ketiga anak mereka tetap tinggal di kampung halaman hingga acara sulang - sulang pahoppu selesai.
Benar saja, keempatnya sudah melakukan berbagai cara, namun tak kunjung menemukan jalan keluar.
Kini, ke-4 nya telah berkumpul. Domu menitipkan sebuah pesan kepada Sarma, ia mengatakan "jangan lupa mikirin diri sendiri ya dek"
Menurut saya, ini paling deep banget sih. Langsung menggeletar disaat Domu bicara itu ke Sarma.
Selanjutnya, Domu mengatakan "Bapak lebih sering berinteraksi ke kau, jadi kamu tau cara bersikap, sedangkan kami sesama lelaki gak tau".
Mereka akhirnya tetap memilih tinggal sementara dan mengikuti acara sulang - sulang pahoppu tersebut.
Intinya, peran Pak Domu disini bersifat keras, semua keinginannya harus di turuti. Pak Domu merasa bahwa apa yang dilakukan adalah yang terbaik untuk keluarganya. Ia hanya mencontohkan apa yang bapaknya pak Domu lakukan, hanya itu saja.
Tak lupa, ompung juga memberikan arahan bahwa semua tidak sama, berbeda. Berikan contoh terbaik "itulah resiko menyekolahkan anak tinggi - tinggi, maka semakin tinggi ilmu yang mereka dapatkan, dan jangan disamakan dengan kita, kitalah yang harus mengerti itu".
Kurang lebih seperti itu pesan yang saya ingat dari ompung. Beberapa pesan tersampaikan membuat hati terenyuh banget dari film ini.
Puncak tertinggi pada film ini pada saat semuanya terbongkar bahwa bapak dan ibu ternyata hanya bersandiwara, dan Sarma mengetahui hal tersebut.
Ketiga anak lainnya bertanya kepada Sarma apakah hal terbut benar adanya?
Jawaban Sarma adalah YA, dan Sarma mengakui bahwa ia mengetahui bahwa bapak dan ibu hanya melakukan sandiwara.
Emosi Ibu meluap, bukan lagi melakukan sandiwara. Semua rasa emosi Ibu, Sarma dan yang lainnya ikut terkuras disini.
Bapak yang harus di turuti kemauannya, Ibu yang harus menurut, bahkan menjadi asing, dan merasa bahwa bapak tidak adil.
Sarma yang banyak memendam segalanya sendirian, namun berusaha tetap nurut dan patuh sama bapak dan Ibu.
Kepecahan ini lah yang banyak sekali membuat para penonton menangis terisak dan tersedu sedu.
Pada film ini mengajarkan, bahwa pentingnya komunikasi dalam keluarga, pendekatan dan keterbukaan.
Bagaimana seharusnya keluarga menjadi tempat pulang dan sebagai rumah. Bukan malah menghindar dari sebuah rumah.
Tapi, menurut saya, jika dalam keluarga anda mengalami hal ini. Mungkin bisa di coba dimulai dari diri sendiri yang memulai untuk mencari pendekatan dalam keluarga, agar bisa menikmati bagaimana rasanya ada di dalam keluarga yang utuh.
Sulit memang, sangat sulit sekali bahkan. Tetapi jika anda berhasil, anda sungguh luar biasa.
Karena Ibu dan Sarma sudah tinggal di rumah orang tua Ibu. Dan ketiga anaknya kembali ke perantauan. Dan hanya tinggal bapak seorang.
Akhirnya Bapak memutuskan untuk memperbaiki segala hubungan, bapak menyetujui hubungan Domu dan pasangannya.
Bapak yang tiba - tiba datang di studio Gabe pada saat live acara tv.
Dan Bapak datang ke tempat dimana Pak Pomo tinggal bersama Sahat.
Semua Pak domu lakukan untuk menjemput Mak Domu dan Sarma. Tentunya memperbaiki hubungan keluarga mereka
3. Kelebihan dan Kekurangan Film Ngeri-Ngeri Sedep
- Untuk kekurangan film ini menurut penulis mungkin ada di bahasa. Beberapa bahasa Batak yang tidak memiliki terjemahan mungkin sedikit sulit di mengerti. Tetapi untuk penulis yang juga tinggal di Sumatera Utara sedikit memahami arti dari bahasa Batak tersebut.
- Untuk kelebihan film Ngeri - Ngeri Sedap menurut penulis secara visualisasi film ini bagus, pengambilan gambar bagus, alur cerita menarik. Bahkan saya salut sama peran Mak Domu (Tika Panggabean) make up nya ituloh pas banget.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar